Syadir Ali

Menulis, Berbisnis, Meliput, Menggerakkan

15/01/2026
Mitos di Balik : Antara Cerita Rakyat dan Kebenaran Tauhid
Hutan Maranne kembali menjadi sorotan.
Lima warga Jambu Kaccia yang hilang saat mencari hutan untuk membuat Pattapi—menjadi pemantik ingatan kolektif akan kisah-kisah lama yang dulu hanya dibisikkan pelan.
Tentang Maranne yang “tidak biasa”, tentang saukan—tempat persembahan orang-orang dahulu kala, jauh sebelum Islam datang menyapa lembah-lembah Bungaya.
Masyarakat mulai saling mengingatkan kembali cerita rakyat yang sudah lama tersimpan di pojok memori:
tentang orang-orang yang pernah hilang dan tak kembali,
tentang batu besar yang tidak boleh disentuh,
tentang suara-suara aneh yang muncul dari rimbunnya pohon,
dan tentang tempat-tempat yang katanya “dijaga”.
Cerita-cerita itu kini bermunculan, berseliweran, merambat di tengah pencarian yang dilakukan warga dan aparat.
Bahkan, di tengah upaya pencarian kemarin, tersiar kabar bahwa seorang warga mengalami kerasukan.
Katanya, dua dari lima orang itu telah disembunyikan oleh makhluk gaib, dan yang akan kembali hanya tiga.
Ucapan itu sempat mengguncang harapan—seolah kabut hutan ikut menutup cahaya akal sehat.
Namun seperti fajar yang tak pernah gagal menyibak gelap, kebenaran akhirnya berdiri tegak.
Alhamdulillah, kelimanya ditemukan dalam keadaan selamat.
Nyata. Hidup. Pulang ke rumah masing-masing.
Dan seluruh desas-desus itu runtuh oleh satu kebenaran:
Allah-lah yang mengatur segalanya.
Menimbang Mitos dengan Timbangan Tauhid
Cerita rakyat adalah bagian dari warisan lisan. Ia bisa dijaga, bisa juga diluruskan. Namun ketika mitos mulai menggantikan akidah, di situlah kita harus berhenti dan menata kembali keimanan.
Tauhid adalah fondasi utama seorang muslim. Ia memurnikan keyakinan bahwa tidak ada satu kekuatan pun di bumi dan langit, kecuali atas izin dan kuasa Allah semata.
Allah ﷻ berfirman:
“Dan jika Allah menimpakan kepadamu suatu bahaya, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya.”
(QS. Yunus: 107)
Juga dalam firman lainnya:
“Dan hanya kepada Allah sajalah kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
(QS. Al-Ma’idah: 23)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah. Jika kamu memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi, no. 2516)
Maka kita harus percaya, bukan makhluk halus yang bisa menyembunyikan manusia, bukan suara-suara gaib yang bisa menculik nyawa—semua yang terjadi hanya bisa terjadi atas kehendak Allah.
Dan jika Allah menjaga, tidak ada satu pun kekuatan yang bisa mencelakai.
Belajar dari Peristiwa Ini
Kisah hilangnya lima warga bukan hanya kisah pencarian raga, tetapi juga pencarian akal sehat dan iman.
Ketika kita terhanyut oleh cerita mistis, kita perlahan melepaskan tali tauhid yang Allah telah ajarkan dengan sempurna.
Hari ini kita belajar kembali:
Bahwa keselamatan datang dari Allah.
Bahwa doa jauh lebih kuat dari teriakan takut.
Bahwa kerja keras yang diiringi keikhlasan jauh lebih ampuh daripada tebakan gaib.
Dan yang terpenting, bahwa Islam telah datang untuk memurnikan keyakinan, bukan melanggengkan cerita yang menyesatkan.
Menutup dengan Doa dan Keyakinan
Peristiwa ini bukan hanya tentang lima warga yang kembali dari gelap hutan.
Ini tentang sebuah kampung yang harus kembali menata hati, menyaring cerita, dan meneguhkan keyakinan.
Sebab tak ada yang berhak disembah selain Allah,
dan tak ada yang mampu melindungi selain Dia.
“Katakanlah: Dialah Allah yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
(QS. Al-Ikhlas: 1–4)
Semoga setiap kejadian menjadi pelajaran.
Semoga setiap cerita ditimbang dengan akal dan iman.
Dan semoga setiap hutan yang kita tapaki bukan hanya membawa raukan untuk Pattapi, tetapi juga membawa kita semakin dekat kepada tauhid yang murni.