Syadir Ali

Menulis, Berbisnis, Meliput, Menggerakkan

15/01/2026

Ketika Karya Menjadi Cermin: Renungan untuk Para Konten

Teman-teman yang saya cintai,
izinkan saya menulis sedikit renungan—bukan untuk menilai, bukan untuk menunjuk siapa salah,
tetapi sebagai pengingat yang pertama-tama saya tujukan kepada diri saya sendiri.
Karena sering kali, sebelum menjangkau orang lain,
ia lebih dulu berbisik pelan kepada hati penulisnya.

Dalam perjalanan ini, kita kerap merasa sedang berlari begitu jauh,
mengejar jam tayang, mengejar algoritma, mengejar angka yang tak pernah selesai.
Sampai-sampai, tanpa kita sadari,
kita lupa jalan pulang menuju niat yang dulu membuat kita memulai.

Lalu, di sela-sela lelah itu, mari kita bertanya pelan,
sejujur-jujurnya, tanpa topeng, tanpa pembelaan:

“Untuk apa sebenarnya kita berkarya?”

Jika tujuan kita adalah mencari penghasilan,
itu bukan kesalahan.
Karena usaha adalah bagian dari ikhtiar,
dan Allah mencintai hamba yang berusaha.

Namun, jangan sampai kita terjebak pada keyakinan yang keliru:
bahwa rizki datang dari algoritma,
bahwa rezeki datang dari angka tayangan,
bahwa platform adalah sumber .

Padahal,
rizki itu datangnya hanya dari Allah.
Facebook hanyalah perantara,
sebuah jalan yang Allah bukakan
agar kita tidak berhenti berusaha.

Tapi di tengah kesibukan mengejar konsistensi,
coba kita kembali melihat diri kita sendiri:
apakah konsistensi kita dalam berkarya
lebih kuat daripada konsistensi kita kepada Allah?

Apakah kita lebih patuh pada aturan platform
daripada pada perintah Tuhan kita sendiri?

Pertanyaan itu bukan untuk menyudutkan,
tapi untuk menyentuh bagian hati
yang sering tertutup oleh ambisi dan kesibukan.

Saudaraku,
kita semua sedang belajar.
Belajar memperbaiki niat,
belajar membenahi langkah,
belajar menempatkan dunia pada genggamannya—
bukan pada hatinya.

Karena karya tanpa etika adalah kesombongan,
karya tanpa niat adalah kehampaan,
dan karya tanpa Allah adalah perjalanan yang tak pernah sampai.

Maka mari kita luruskan kembali arah.
Jadikan karya sebagai ladang kebaikan,
bukan hanya sebagai alat mengejar angka.
Jadikan platform sebagai sarana,
bukan tempat bergantung.

Semoga Allah menjaga setiap langkah kita,
melapangkan setiap rezeki kita,
dan meridhai setiap karya yang kita persembahkan.