Satu tahun yang lalu, tepatnya pada 31 Desember 2025, jantungku tiba-tiba berdetak kencang. Tubuh melemah, napas terasa berat. Hari itu seolah menitipkan pesan pelan—bahwa hidup ini tidak selama yang sering kita bayangkan, dan kematian tak pernah benar-benar menunggu kesiapan.
Sejak pagi hingga sore, kegelisahan itu terus menekan. Aku mencoba bertahan, berpura-pura baik-baik saja. Hingga akhirnya aku memilih menyerah, bukan pada hidup, tapi pada kesadaran bahwa tubuh pun punya batas. Aku ke puskesmas, diperiksa, lalu disarankan rawat inap. Infus dipasang. Di titik itu, tubuh benar-benar tak lagi bisa diajak bernegosiasi.
Malam pun tiba.
Malam pergantian tahun.
Saat di luar sana orang-orang bersiap menyambut tahun baru dengan riuh dan petasan, aku justru terbaring lemah di ranjang perawatan, ditemani tetesan air infus yang jatuh perlahan—seakan menghitung waktu dengan caranya sendiri.
Aku terlelap dalam kondisi yang lemah.
Ditemani dinginnya ruangan dan suara infus yang setia menetes.
Paginya, aku terbangun.
Tanggal 1 Januari 2026.
“Tadi malam ribut sekali, suara petasan meledak, mengganggu tidur,” ujar seorang wanita di ruangan itu. Aku terdiam. Malam itu aku tidak mendengar apa pun. Dunia terasa jauh. Atau mungkin Allah sedang menjauhkan aku dari hiruk-pikuk yang tak perlu.
Dari sakit itu, aku menemukan satu pelajaran hidup. Akhir tahun yang kututup dengan kondisi drop dan dirawat inap bukanlah kebetulan. Ia adalah bentuk kasih sayang Allah—agar aku belajar bersabar, berhenti sejenak, dan tidak ikut larut dalam perbuatan sia-sia.
Kadang Allah tidak menegur dengan kata-kata, melainkan dengan keadaan. Menghentikan langkah kita sejenak, agar kita sadar bahwa hidup ini singkat, dan sebaik-baiknya penutup tahun adalah kembali kepada-Nya.
Disclaimer:
Tulisan ini adalah nasihat dan pengingat untuk diri pribadi penulis, tanpa maksud menggurui. Setiap orang memiliki jalan hidup dan cara masing-masing dalam memaknai peristiwa. Jika ada manfaat, silakan diambil. Jika tidak, silakan diabaikan.
