Kehidupan, adalah perjalanan panjang yang sering kali tidak kita pahami sejak awal.
Ia datang tanpa kita minta, berjalan tanpa kita tahu arah akhirnya, dan mengajarkan banyak hal dengan cara yang kadang lembut, kadang begitu menyakitkan.
Dalam kehidupan, kita belajar bertahan.
Belajar tersenyum di tengah luka, belajar kuat saat tak ada yang menggenggam tangan, dan belajar diam ketika suara hati kita tak didengar siapa pun.
Ada hari-hari dimana hidup terasa begitu adil, seolah semua doa dijawab satu per satu.
Namun ada pula hari-hari ketika hidup terasa kejam, menghantam tanpa aba-aba, membuat kita bertanya, “Ya Allah, sampai kapan?”
Kehidupan mengajarkan bahwa tidak semua harapan akan menjadi nyata, dan tidak semua perjuangan berakhir bahagia.
Ada lelah yang tak terucap, ada tangis yang hanya Allah yang tahu, dan ada doa yang kita simpan rapat-rapat di sudut hati terdalam.
Sering kali kita merasa sendirian.
Berjalan di tengah keramaian, tapi hati kosong, jiwa rapuh, dan pikiran penuh tanda tanya.
Siapa yang peduli?
Siapa yang benar-benar mengerti?
Namun kehidupan juga mengajarkan satu hal yang paling berharga:
bahwa kita masih hidup karena Allah belum selesai dengan cerita kita.
Setiap luka punya makna, setiap air mata punya nilai, dan setiap kesabaran tak pernah sia-sia.
Meski kita jatuh berkali-kali, kehidupan selalu memberi kesempatan untuk bangkit, meski dengan langkah yang tertatih.
Aku belajar dari kehidupan, bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak menangis, tapi tetap berjalan meski hati hancur.
Bahwa ikhlas bukan berarti lupa, tapi menerima dengan lapang dada apa yang tak bisa kita ubah.
Hari demi hari kulalui, dengan banyak kekurangan, banyak kesalahan, dan doa-doa yang sering terucap dalam diam.
Aku tak tahu akan menjadi apa esok hari, tapi hari ini aku belajar menjadi manusia yang lebih sabar, lebih bersyukur, dan lebih dekat pada Allah.
Jika suatu saat hidup terasa begitu berat, ingatlah…
Kehidupan memang tidak selalu ramah, tapi Allah tidak pernah jauh.
Ia melihat setiap perjuangan, mendengar setiap doa, dan mencatat setiap kesabaran.
Dan jika kelak hidup ini berakhir, semoga aku bisa berkata dengan jujur,
“Ya Allah, aku telah berusaha menjalaninya
sebaik yang aku mampu.”
