SYADIR.COM – Fenomena hilangnya rasa malu dalam berkarya di ruang digital kian menjadi sorotan. Demi konten, sebagian kreator dinilai mulai melampaui batas, bahkan mengorbankan nilai moral yang seharusnya dijaga.
Padahal, rasa malu bukan sekadar perasaan, tetapi benteng diri. Ia menjaga seseorang agar tidak melakukan hal-hal yang merendahkan martabat, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan.
Namun di tengah derasnya arus popularitas, rasa malu perlahan ditinggalkan. Demi tayangan, jangkauan, dan interaksi, sebagian memilih tampil tanpa batas. Yang dulu dianggap tabu, kini justru dinormalisasi.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran. Ketika rasa malu hilang, batas antara yang pantas dan tidak pantas ikut memudar. Moralitas tidak lagi menjadi pertimbangan utama, digantikan oleh ambisi akan pengakuan.
Padahal dalam nilai kehidupan, rasa malu adalah bagian dari penjaga diri. Rasulullah pernah mengingatkan bahwa jika seseorang sudah tidak punya rasa malu, maka ia akan melakukan apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Inilah dampak nyata ketika rasa malu dikorbankan demi konten: standar etika menjadi kabur, nilai kebaikan terpinggirkan, dan publik perlahan terbiasa pada hal-hal yang seharusnya tidak dinormalisasi.
Karena itu, ruang digital seharusnya dimanfaatkan untuk memberi manfaat, bukan sekadar menarik perhatian. Berkarya boleh, menghibur boleh, namun tetap dalam batas yang menjaga martabat.
