Aku melihat hidup
berjalan pelan di antara pinus-pinus Maranne, sunyi,
namun tidak pernah kosong.
Seorang petani melangkah,
tanpa janji hasil,
tanpa kepastian pulang membawa cukup.
Yang ia bawa hanya keyakinan
bahwa Tuhan tidak tidur
melihat keringat yang jatuh diam-diam.
Raukan itu digenggam
seperti harapan yang tak boleh patah.
Duri melukai tangan,
tanah licin menguji langkah,
namun ia tetap masuk hutan
seolah berkata pada hidup:
aku belum menyerah.
Pinus-pinus berdiri tegak,
menyimpan rahasia doa-doa lirih
yang tak sempat diucap keras.
Di sanalah lapar diajarkan sabar,
dan lelah dipeluk oleh ikhlas.
Jika suatu hari kau merasa kalah,
ingatlah langkah sunyi di Maranne.
Bahwa hidup tak selalu menang dengan sorak,
kadang ia bertahan
hanya dengan terus berjalan.
Dan di situlah manusia dimuliakan:
bukan karena banyaknya hasil,
tetapi karena ia memilih tetap berjuang
saat dunia memberinya jalan yang sepi.
