Ia berangkat sebelum matahari sempat benar-benar bangun.
Bukan menuju panggung, bukan pula ke tempat yang menjanjikan tepuk tangan.
Ia hanya menuju sekolah kecil di Borongbulo.
Jalan di depannya rusak, licin oleh hujan dan janji yang tak kunjung ditepati.
Ban motor sering tergelincir, langkah kaki kerap ragu,
namun niatnya selalu lebih dulu sampai daripada rasa takut.
Tak ada yang mencatat lelahnya. Tak ada berita tentang bajunya yang basah,
tentang sepatu yang kotor oleh lumpur. Perjuangannya tak viral, karena ia tak berisik
tentang pengorbanan.
Di ruang kelas yang sunyi, ia mengajarkan huruf, sambil menyembunyikan letih di balik senyum sederhana. Anak-anak tak tahu betapa jauh perjalanan yang telah ditempuh gurunya hanya untuk berkata:
“Selamat pagi.”
Kadang hidup memang tidak adil dalam memberi pengakuan.
Ada perjuangan yang tak diberi panggung, tak diberi nama, namun justru di sanalah masa depan diam-diam dibentuk.
Jika suatu hari kita bertanya mengapa harapan masih hidup,
ingatlah guru di Borongbulo. Yang memilih tetap datang
meski jalannya rusak, meski licin, meski tak ada yang bertepuk tangan.
