Kamase-Masea: Kesederhanaan Orang Kajang yang Kerap Disalahpahami
Oleh Syadir Ali
Orang Kajang dengan slogannya kamase-masea kerap dipahami secara keliru. Selama ini, tidak sedikit yang mengira bahwa semboyan tersebut adalah bentuk pilihan hidup dalam kemiskinan. Padahal, anggapan itu jauh dari kenyataan yang sesungguhnya.
Kamase-masea bukanlah kemiskinan, melainkan kesederhanaan. Ia adalah sikap hidup dan cara pandang yang dijaga turun-temurun. Hidup secukupnya, berpakaian sederhana, makan seperlunya, serta tidak berlebihan dalam menikmati dunia. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tahu batas.
Jika dinilai dari sisi ekonomi, orang Kajang justru tergolong sangat mapan. Mereka memiliki ternak, tanah, dan simpanan uang. Dalam satu acara kematian saja, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Belum lagi dalam acara pernikahan, di mana uang panai’ dapat menembus angka ratusan juta, bahkan sebelum dihitung biaya resepsi dan rangkaian adat lainnya.
Namun, kemapanan itu tidak pernah dipamerkan dalam kehidupan sehari-hari. Kekayaan tidak menjadi identitas, dan kemewahan bukan tujuan hidup. Di situlah makna sejati kamase-masea: mampu, tetapi memilih untuk hidup sederhana.
Selain itu, orang Kajang juga dikenal memiliki kecintaan yang sangat kuat terhadap alam. Hutan bukan sekadar sumber kehidupan, melainkan bagian dari jati diri dan amanah leluhur. Dengan kesadaran adat, mereka menjaga hutan tanpa harus menunggu aturan negara. Karena itulah, masyarakat Kajang sering dijuluki sebagai penjaga hutan terbaik.
Masih banyak nilai, kearifan, dan jejak sejarah yang hidup di tanah Kajang—hal-hal yang tak selalu terlihat dari luar dan tak cukup dipahami hanya dari cerita orang lain.
Untuk mengenal Kajang lebih jauh, datanglah dan berjalanlah sendiri. Menelusuri jejak sejarahnya, menyaksikan langsung cara hidupnya, serta menemukan fakta-fakta yang mungkin belum pernah Anda temukan selama ini.
Karena tentang Kajang, tidak semua bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sebagiannya hanya bisa dipahami dengan kehadiran, pengamatan, dan perasaan.
Syadir Ali
