Ketika Keadaan Menampar, Syukur Menjadi Jawaban
Oleh Syadir Ali
Terkadang manusia tidak belajar dari nasihat, tidak pula dari kata-kata bijak. Ia baru benar-benar tersadar ketika hidup menamparnya secara langsung. Saat keadaan memaksa mata terbuka, barulah kita paham bahwa hidup yang kita jalani hari ini, sejatinya masih jauh lebih baik dibandingkan kehidupan banyak orang di luar sana.
Ketika kita berani melangkah keluar dari zona nyaman, kita akan melihat kenyataan yang selama ini luput dari perhatian. Ada kehidupan yang dijalani di gubuk sempit, beralaskan tanah, tanpa kepastian esok hari. Ada pula mereka yang malamnya bukan diisi dengan istirahat, melainkan dengan menahan lapar, menunggu pagi datang tanpa tahu apakah esok ada makanan yang bisa disantap.
Sementara kita, masih sering mengeluh. Mengeluh karena menu hari ini hanya tahu dan tempe. Mengeluh seolah hidup berlaku tidak adil. Padahal, bagi sebagian orang, tahu dan tempe adalah hidangan terbaik yang hanya bisa mereka impikan. Sesuatu yang mungkin jarang mereka rasakan, namun selalu mereka doakan.
Di sinilah letak kekeliruan kita sebagai manusia. Kita terlalu sering membandingkan hidup dengan mereka yang berada di atas, lupa menoleh ke bawah. Kita sibuk menghitung kekurangan, hingga lupa mensyukuri nikmat yang tak pernah putus.
Keadaan tidak datang untuk merendahkan kita, melainkan untuk menyadarkan. Bahwa keluh kesah tidak akan mengubah keadaan, tapi rasa syukur akan menguatkan hati. Bahwa hidup bukan soal seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa lapang dada kita menerima dan mensyukurinya.
Maka, sebelum mengeluh lagi, cobalah berhenti sejenak. Lihat sekeliling, resapi kenyataan. Bisa jadi, hidup yang sedang kita keluhkan hari ini adalah kehidupan yang sedang diperjuangkan orang lain dengan air mata dan doa.
