Tegak lurus dan selalu berada di jalan yang benar sebenarnya tidak pernah benar-benar mudah terwujud. Sebab manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Bahkan dalam perkara iman, manusia sering kali lalai.
Hari ini ia beriman, esok bisa saja ia tergelincir dalam kemaksiatan. Pagi ia merasa dekat kepada Allah, sore harinya bisa saja ia jauh dari-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seseorang di antara kalian benar-benar melakukan amalan penghuni surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta, namun takdir mendahuluinya lalu ia melakukan amalan penghuni neraka sehingga ia masuk neraka. Dan sesungguhnya seseorang benar-benar melakukan amalan penghuni neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta, namun takdir mendahuluinya lalu ia melakukan amalan penghuni surga sehingga ia masuk surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itulah iman tidak pernah benar-benar stabil. Ia bisa naik dan turun.
Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:
“Sungguh iman itu dapat usang di dalam hati kalian sebagaimana pakaian menjadi usang, maka mintalah kepada Allah agar memperbarui iman dalam hati kalian.”
(HR. Thabrani)
Hal inilah yang kemudian menguatkan bahwa peran kita sebagai manusia sangat penting untuk saling mengingatkan ketika yang lain mulai salah jalan.
Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.”
(QS. Al-‘Asr: 1–3)
Namun orang yang mengingatkan bukan berarti ia sudah lurus. Boleh jadi ia jauh lebih buruk dari orang yang ia ingatkan. Hanya saja ia sedang berusaha berdiri di atas kebenaran, meski sering melakukan kesalahan, lalu berupaya kembali tegak ketika ia jatuh.
Sebab manusia terbaik bukanlah yang tidak pernah salah, melainkan yang selalu kembali ketika ia melakukan kesalahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Pada akhirnya, yang Allah nilai bukanlah siapa kita hari ini, melainkan bagaimana akhir kita ketika kembali kepada-Nya.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Karena itu jangan pernah merasa paling lurus, dan jangan pula berputus asa ketika terjatuh. Teruslah berusaha kembali ke jalan yang benar, selama napas masih ada dan pintu taubat masih terbuka.
