Pelajaran Hidup dari Ikram: Saat Kita Diuji untuk Menjadi Manusia
Tidak semua pelajaran hidup datang dari buku.
Tidak semua nasihat berasal dari orang yang pandai berbicara.
Kadang, Allah mengirimkan pelajaran itu melalui seorang anak kecil yang sedang berjuang menahan sakit…
seorang anak bernama Ikram.
Dari tubuh mungilnya, kita belajar bahwa hidup tidak pernah menjanjikan kemudahan.
Ketika ia terbaring lemah, napasnya tersengal, dan dengan suara lirih berkata, “Ya Allah… sakit,”
di situlah Allah sedang mengetuk pintu hati kita:
Masihkah engkau punya empati?
Masihkah engkau peka terhadap derita orang lain?
Ikram ditolak di beberapa rumah sakit hanya karena tidak memiliki BPJS.
Pengasuhnya berlari dari satu tempat ke tempat lain, membawa harapan yang hampir patah.
Tiga kali mereka mencoba ke klinik, namun tidak ada perubahan.
Hingga akhirnya, Ikram harus dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi besar.
Namun di balik ujian itu, ada kenyataan yang lebih sunyi—yang jarang dilihat orang.
Bahwa panti asuhan tidak hanya merawat anak yatim.
Ada anak-anak lain yang tidak memiliki siapa-siapa, namun tidak pernah tersentuh bantuan.
Mereka butuh makan.
Butuh seragam sekolah.
Butuh membayar ujian.
Butuh hidup layak sebagaimana anak-anak lainnya.
Sebagian dari mereka harus berjualan untuk bisa membayar SPP.
Ada yang dipulangkan sambil menangis karena tidak mampu membayar uang ujian.
Tetapi dunia jarang melihat air mata itu—karena tidak viral, tidak ramai, tidak diunggah.
Melihat perjuangan seperti ini, kita belajar satu hal penting:
Bahwa kebaikan bukan tentang mampu atau tidak—tetapi tentang mau atau tidak.
Allah tidak bertanya seberapa banyak yang kita beri,
tetapi seberapa tulus kita peduli.
Ikram mungkin sedang menjalani operasi,
tapi sesungguhnya Allah sedang mengoperasi hati kita—
membersihkannya dari rasa acuh,
membuka ruang bagi empati,
mengajari kita untuk tidak hanya melihat, tetapi turut mengambil peran.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang berapa lama kita hidup,
tetapi berapa banyak keberadaan kita mengurangi beban orang lain.
Maka hari ini, mari mengambil peran.
Peran kecil pun cukup, selama lahir dari hati.
Doa, dukungan, bantuan, kepedulian—apa pun bentuknya—
adalah cahaya yang Allah titipkan lewat tangan kita.
Semoga Allah kuatkan Ikram.
Semoga Allah kuatkan para pengasuhnya.
Semoga kita semua belajar menjadi manusia yang lebih peka, lebih lembut, dan lebih ringan tangan dalam kebaikan.
Karena setiap detik adalah
kesempatan untuk menjadi bagian dari pertolongan Allah.
