Syadir Ali

Menulis, Berbisnis, Meliput, Menggerakkan

15/01/2026

Pertemuan Bukan Soal Rupiah

Oleh

Ada kekeliruan cara pandang yang masih sering terjadi: pertemuan dinilai dengan rupiah. Seolah setiap silaturahmi selalu berujung pada transaksi, setiap perbincangan mesti dibungkus amplop, dan setiap kehadiran harus dibayar. Padahal, jika pertemuan hanya dimaknai sejauh itu, maka kita sedang merendahkan nilai kita sendiri.

Silaturahmi bukan soal uang. Ia adalah soal niat, , dan saling menghargai. Terlalu rendah jika pertemuan dinilai dengan angka, sebab maknanya jauh lebih luas daripada sekadar materi.

Di titik inilah profesi kerap disalahpahami. Tidak sedikit yang menganggap jurnalis datang dengan maksud meminta, menekan, atau bahkan memaksa. Padahal, jurnalis punya harga diri. Jurnalis bekerja dengan prinsip dan . Mental pengemis bukan bagian dari profesi ini.

Jika kemudian ada yang menyimpang, yang melanggar etika, atau menjadikan profesi sebagai alat tawar-menawar, maka itu adalah oknum. Dan oknum tidak pernah pantas dijadikan wajah sebuah profesi. Menyamaratakan kesalahan segelintir orang adalah ketidakadilan yang berulang.

Perlu dicatat pula: uang tidak selamanya mampu membenarkan setiap kesalahan. Mungkin uang bisa membungkam satu oknum, bahkan dua. Namun kebenaran tidak pernah bisa dibeli sepenuhnya. Akan selalu ada mereka yang memilih berdiri di sisi kebenaran, meski tanpa imbalan, meski harus menanggung risiko.

Karena itu, bagi siapa pun yang memikul jabatan, bijaklah. Amanahlah. Bertanggung jawablah. Jabatan bukan sekadar posisi, tetapi titipan. Ia adalah amanah rakyat yang kelak tidak hanya dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah.

Pada akhirnya, pertemuan seharusnya menjadi ruang untuk saling menjaga martabat, bukan saling merendahkan. Dan profesi apa pun—termasuk jurnalis—layak dihormati selama ia berdiri di atas prinsip dan kebenaran.