Satu Klik Bisa Menghabiskan Rekening: Waspadai Undian Mengatasnamakan BRImo
Oleh: Syadir Ali
Beberapa hari terakhir, sebuah pesan berantai kembali ramai beredar di media sosial dan aplikasi pesan singkat. Pesan itu mengatasnamakan program BRImo Festival dan menyasar nasabah BRI dengan iming-iming hadiah yang jika dibaca sepintas, sungguh sulit untuk diabaikan.
Pesannya kurang lebih seperti ini:
“Khusus seluruh nasabah BRI yang sudah terdaftar di BRImo, dapatkan kupon undian BRImo Festival dengan cara daftar atau klik di bawah ini.
https://s.id/Program-BRI-FSTVL
Cukup satu kupon bisa memenangkan berbagai hadiah menarik, mulai dari Alphard, BMW, Fortuner, Honda Brio, Vespa matic 2025, iPhone 15 Pro Max hingga Smart TV.”
Sekilas, semuanya tampak rapi dan meyakinkan. Nama bank disebut dengan jelas, aplikasi resmi dicatut, daftar hadiah disusun detail. Tapi justru di titik inilah masyarakat perlu berhenti sejenak dan bertanya: jika ini benar-benar resmi, mengapa caranya seperti ini?
Kejahatan digital hari ini tidak lagi datang dengan ancaman atau paksaan. Ia datang dengan bahasa halus, tawaran menggiurkan, dan memanfaatkan satu hal yang paling mudah digerakkan: harapan. Harapan untuk menang, harapan untuk beruntung, harapan bahwa rezeki bisa datang tanpa usaha panjang.
Padahal, dalam banyak kasus, satu klik itulah awal masalah. Link pendek yang digunakan tidak memperlihatkan alamat tujuan sebenarnya. Pengguna diarahkan ke halaman yang menyerupai layanan resmi, lalu diminta mengisi data. Dari situlah pencurian dimulai. Data diambil, akses dibuka, dan saldo bisa terkuras tanpa disadari.
Perlu saya tegaskan, dan ini penting untuk dipahami bersama: bank tidak pernah meminta data pribadi nasabah melalui pesan pribadi atau tautan yang disebar sembarangan. Program resmi selalu diumumkan melalui aplikasi, situs resmi, atau kanal yang bisa diverifikasi. Bukan lewat broadcast yang entah berasal dari siapa.
Daftar hadiah yang terlalu besar dengan syarat yang terlalu mudah juga patut dicurigai. Dalam sistem perbankan, undian selalu memiliki mekanisme yang jelas, periode yang diumumkan, serta dasar transaksi yang dapat dilacak. Kalimat “cukup satu kupon” tanpa penjelasan seharusnya menjadi tanda bahaya, bukan kabar baik.
Literasi digital hari ini bukan lagi soal bisa menggunakan ponsel atau aplikasi, melainkan soal kemampuan menahan diri. Menahan jari sebelum mengklik, menahan rasa penasaran, dan menahan diri dari godaan yang terlalu indah untuk jadi kenyataan.
Sebab pada akhirnya, yang sering menjadi korban bukan orang yang tidak tahu, tetapi orang yang terlalu percaya. Dan dalam banyak kasus serupa, yang benar-benar diuji bukan keberuntungan, melainkan kewaspadaan.
Lebih baik kehilangan peluang hadiah yang tidak jelas, daripada kehilangan tabungan yang dikumpulkan dengan kerja keras bertahun-tahun.
Syadir Ali
