Syadir Ali

Menulis, Berbisnis, Meliput, Menggerakkan

15/01/2026

Ketika Judi Menyusup ke Desa: Game yang Menipu, Harapan yang Menghancurkan

Oleh:

Judi hari ini tidak lagi memilih sasaran. Ia tidak hanya menyasar kalangan atas di kota-kota besar, tetapi justru merambah masyarakat desa yang minim literasi, yang hidup dalam tekanan ekonomi dan mudah tergiur hasil instan tanpa sempat memikirkan dampak buruk di belakangnya.

Lebih berbahaya lagi, judi online tidak lagi datang dengan nama aslinya. Ia dibungkus rapi sebagai game online—penuh warna, hadiah harian, bonus, level, dan istilah-istilah yang terdengar akrab. Banyak yang terjebak tanpa sadar, merasa sedang bermain, padahal sejatinya sedang berjudi.

Inilah wajah baru judi: lebih mudah, lebih senyap, dan jauh lebih menipu.

Di banyak desa, ponsel android dan kuota internet menjadi pintu masuk. Iklan bertebaran di , bahkan menyusup lewat rekomendasi permainan. “Cuma game,” kata mereka. “Bisa dapat uang,” janji yang diulang. Bagi masyarakat desa yang hidup dari hasil tani, buruh harian, atau pekerjaan serabutan, janji itu terdengar seperti jalan keluar dari kesulitan hidup.

Padahal yang datang bukan solusi, melainkan kehancuran yang bertahap.

Uang belanja habis sebelum hari pasar. Hasil panen digadaikan untuk menutup kekalahan. Anak-anak tumbuh menyaksikan orang tuanya lebih setia pada layar daripada tanggung jawab. Di desa yang seharusnya menjadi ruang nilai, gotong royong, dan ketenangan, judi menyusup perlahan, merusak sendi sosial tanpa suara gaduh.

Minimnya literasi digital membuat penyamaran ini semakin efektif. Banyak yang tidak memahami bahwa di balik animasi dan musik ceria itu terdapat mekanisme judi murni—taruhan, peluang, dan ketergantungan. Kemenangan kecil hanyalah umpan, agar kekalahan besar terasa wajar. Sistemnya tidak pernah dirancang untuk membuat pemain sejahtera, melainkan agar mereka terus bermain hingga habis segalanya.

Ketika uang habis dan utang menumpuk, rasa malu membuat banyak orang memilih diam. Mereka menutupinya dengan kebohongan, menarik diri dari lingkungan, bahkan kehilangan kendali atas emosi. Dari sinilah konflik keluarga, pertengkaran, hingga kekerasan sering bermula. Judi tidak hanya mencuri uang, tetapi juga kedamaian hidup.

Ironisnya, di desa yang jauh dari pengawasan, judi online lebih sulit terdeteksi. Tidak ada teguran sosial, tidak ada kontrol lingkungan. Semua berlangsung senyap—hingga suatu hari dampaknya meledak: rumah tangga retak, kepercayaan hilang, dan masa depan anak-anak dipertaruhkan.

Yang paling berbahaya, ketika judi disamarkan sebagai game, maka yang dirusak bukan hanya ekonomi, tetapi juga cara berpikir generasi. Anak-anak dan remaja tumbuh dengan keyakinan bahwa keberuntungan lebih penting daripada usaha, bahwa menunggu hasil putaran lebih bermakna daripada belajar dan bekerja. Ini adalah kerusakan jangka panjang yang sering luput disadari.

Karena itu, pemberantasan judi tidak cukup dengan penindakan hukum semata. Dibutuhkan yang jujur dan membumi, bahasa yang dipahami masyarakat desa, serta kehadiran negara, tokoh agama, dan tokoh adat untuk melindungi mereka yang paling rentan. Tanpa itu, desa akan terus menjadi ladang korban baru dari judi dengan wajah permainan.

Namun satu hal yang tidak boleh kita lupakan: selalu ada jalan pulang.

Betapapun jauh seseorang melangkah, masih ada kesempatan untuk berhenti, menoleh, dan kembali. Judi mungkin telah menyesatkan langkah, mengaburkan akal, dan menjauhkan manusia dari tanggung jawab. Tetapi manusia tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keberanian untuk berubah.