Ada masa ketika seseorang terlihat baik-baik saja,
padahal di dalam dirinya sedang terjadi banyak hal yang tidak bisa dijelaskan.
Ia tetap tersenyum, tetap menjawab sapaan, tetap menjalani hari seperti biasa.
Namun jauh di dasar hatinya, ada ruang yang pelan-pelan dipenuhi sepi.
Bukan sepi karena tidak ada orang,
melainkan sepi karena tidak ada lagi tempat untuk benar-benar pulang.
Kita sering mengira pulang adalah rumah,
padahal tidak selalu begitu.
Kadang rumah hanyalah bangunan,
sedangkan pulang adalah rasa diterima tanpa banyak tanya.
Ada orang yang tinggal di tempat yang ramai,
tetapi hidup dalam sunyi yang panjang.
Ada pula yang berjalan ke banyak arah,
namun tidak pernah sampai ke dirinya sendiri.
Barangkali itulah sebabnya manusia sering kelelahan.
Bukan karena hidup terlalu berat,
tetapi karena terlalu lama memanggul apa yang tak pernah sempat ia letakkan.
Kita menyimpan kecewa,
menumpuk luka,
lalu berpura-pura kuat
seolah hati tidak pernah meminta istirahat.
Padahal ada saatnya jiwa hanya ingin didengar,
bukan dinasihati.
Ada waktu ketika air mata tidak sedang mencari penjelasan,
ia hanya ingin jatuh tanpa dihakimi.
Dan semakin dewasa seseorang,
semakin ia mengerti bahwa tidak semua kehilangan harus dikejar,
tidak semua patah harus diceritakan,
dan tidak semua sunyi harus dilawan.
Ada sunyi yang justru menyelamatkan.
Ia membuat kita berhenti dari keramaian yang melelahkan.
Ia memaksa kita duduk, menatap diri sendiri,
lalu bertanya dengan jujur:
masihkah aku mengenal siapa yang hidup di dalam tubuh ini?
Sering kali, jawaban itu tidak datang cepat.
Ia muncul perlahan,
di sela malam yang panjang,
di antara doa-doa yang tidak sepenuhnya terucap,
atau dalam diam yang tiba-tiba terasa hangat.
Di situlah kita mulai paham,
bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke tempat lama.
Kadang pulang adalah keberanian untuk menerima diri sendiri
setelah sekian lama hidup sebagai orang yang ingin menyenangkan semua orang.
Kadang pulang adalah memaafkan apa yang telah pergi.
Kadang pulang adalah berhenti menunggu hal yang tak lagi berniat datang.
Dan kadang pulang adalah mengerti
bahwa tidak semua yang hilang harus ditemukan kembali.
Sebab ada yang memang diciptakan untuk pergi,
agar kita belajar bahwa hidup tidak dibangun dari apa yang menetap,
melainkan dari apa yang berhasil kita lepaskan dengan ikhlas.
Maka jika hari ini hidup terasa sunyi,
jangan buru-buru menganggapnya musibah.
Bisa jadi itu adalah jalan pulang
yang sedang dibuka perlahan oleh waktu.
Tanpa suara.
Tanpa tanda yang gemuruh.
Hanya pelan,
namun pasti,
membawa kita kembali
kepada diri yang pernah lama ditinggalkan.
