Ketika seorang jurnalis memberitakan fakta di lapangan,
seketika hadir jurnalis lain sebagai “pahlawan”,
datang membawa pembelaan.
Lagi-lagi profesi dimanfaatkan,
membela instansi atau pribadi
yang dianggap menguntungkan baginya.
Di titik itu,
ia mulai kehilangan taringnya
sebagai kontrol sosial.
Ia lupa,
bahwa dirinya adalah penyambung lidah masyarakat,
yang seharusnya menyuarakan suara kecil
yang lama terdiam dalam ketakutan.
Bukan justru menjilat penguasa
demi kepentingan.
Sadarlah, kawan.
Jaga dan pertahankan integritasmu.
Dunia ini sementara,
namun jasa, pribadi, dan profesimu
akan tetap dikenang.
Maka tinggalkanlah jejak yang baik,
sebelum engkau pergi
dari dunia yang penuh tipu daya ini.
Jangan hanya karena beda kepentingan,
kau saling sikut sesama jurnalis.
Berdirilah di tengah,
mencari, memverifikasi, lalu memutuskan.
Jangan melakukan pembelaan buta,
sebab jurnalis tidak dituntut untuk itu.
Ia dituntut untuk berintegritas.
