BMKG dapat memprakirakan datangnya El Niño berdasarkan ilmu pengetahuan, data, teknologi pengamatan, serta analisis atmosfer dan iklim. Satelit memantau atmosfer, komputer mengolah data, para ilmuwan menyusun model, lalu manusia berusaha membaca kemungkinan yang akan terjadi jauh sebelum dampaknya benar-benar dirasakan.
Teknologi semakin maju. Ilmu pengetahuan semakin berkembang. Manusia semakin mampu membaca alam.
Namun ada satu hal yang perlu kita renungkan:
Apakah kemajuan teknologi juga diikuti dengan kemajuan cara berpikir manusia?
Jangan sampai teknologi kita sudah modern, tetapi cara berpikir kita masih terbelenggu oleh logika mistika.
Dalam Madilog, Tan Malaka membahas “Logika Mystika” sebagai cara berpikir yang berasaskan kepercayaan semata-mata, bukan bukti yang diperoleh melalui pancaindra atau pengalaman. Ia melihat bahwa manusia perlu bergerak dari logika mistika, melalui filsafat, menuju ilmu pengetahuan.
Logika mistika dalam pemikiran Tan Malaka tidak sesempit sekadar persoalan percaya kepada dukun.
Ia berbicara tentang cara berpikir yang menjadikan kegaiban dan kepercayaan sebagai penjelasan, sementara manusia berhenti mencari sebab, bukti, dan jalan penyelesaian melalui pikirannya sendiri.
Ketika menghadapi persoalan, ia tidak bertanya:
Apa penyebabnya?
Bagaimana prosesnya?
Apa buktinya?
Apa yang bisa dilakukan?
Tetapi langsung menerima jawaban yang diwariskan begitu saja.
Ketika sakit, ia mendatangi dukun.
Ketika gagal panen, ia mencari tempat keramat dan melakukan ritual tertentu.
Ketika mengalami musibah, ia mencari sesuatu yang dianggap menjadi penyebab gaibnya.
Ketika sesuatu tidak dipahami, ia buru-buru memberikan jawaban mistis tanpa berusaha mencari tahu.
Di sinilah persoalannya.
Bukan sekadar pada apa yang dipercayai, tetapi pada ketika manusia berhenti berpikir setelah mendapatkan jawaban yang tidak pernah diuji.
Tan Malaka bahkan menjelaskan bahwa pengetahuan tidak akan pernah habis. Persoalan baru akan terus muncul dan manusia terus berusaha menyelesaikannya. Ketika seseorang menganggap pengetahuan atau persoalan sudah memiliki batas mutlak, menurutnya manusia dapat terperangkap kembali ke dalam mistika dan dogmatisme.
Maka kita perlu meng-upgrade diri.
Bukan hanya handphone yang kita upgrade.
Bukan hanya komputer yang kita upgrade.
Bukan hanya kendaraan yang kita ganti dengan teknologi terbaru.
Cara berpikir kita juga harus di-upgrade.
Jangan setiap persoalan langsung diserahkan kepada sesuatu yang tidak kita pahami.
Belajarlah bertanya.
Belajarlah mencari sebab.
Belajarlah memeriksa bukti.
Belajarlah membedakan antara fakta, dugaan, tradisi, mitos, dan keyakinan.
Hanya karena sesuatu telah dilakukan oleh nenek moyang kita selama ratusan tahun, bukan berarti kita tidak boleh bertanya apakah hal itu benar atau tidak.
Kita boleh menghormati budaya.
Kita boleh mempelajari tradisi.
Tetapi jangan berhenti berpikir.
Dan sebagai seorang Muslim, kita juga perlu membedakan persoalan ini dengan iman kepada Allah.
Beriman kepada Allah bukan berarti berhenti menggunakan akal.
Berdoa bukan berarti berhenti berusaha.
Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar.
Kita meyakini bahwa segala sesuatu berada dalam kehendak Allah, tetapi kita tetap mengambil sebab, mencari ilmu, menggunakan akal, dan berusaha mencari jalan keluar.
Kalau hujan tidak turun, kita boleh berdoa kepada Allah. Tetapi kita juga perlu memahami cuaca, mengelola air, memperbaiki irigasi, memilih bibit yang sesuai, dan mencari solusi pertanian.
Kalau seseorang sakit, kita boleh berdoa kepada Allah. Tetapi kita juga mencari dokter, melakukan pemeriksaan, memahami penyakit, dan menjalani pengobatan.
Doa tidak menghapus ikhtiar.
Tawakal tidak membatalkan ilmu.
Dan iman tidak mengharuskan kita mematikan akal.
Maka mari kita bergerak menuju masyarakat yang bukan hanya modern dalam teknologi, tetapi juga matang dalam berpikir.
Jangan sampai kita hidup di zaman satelit, kecerdasan buatan, komputer super, dan ilmu pengetahuan yang begitu maju, tetapi ketika menghadapi persoalan kehidupan kita kembali pada ketakutan, takhayul, dan keyakinan yang tidak pernah kita periksa.
Kemajuan yang sesungguhnya bukan hanya ketika manusia mampu menciptakan teknologi yang semakin canggih.
Kemajuan juga terjadi ketika manusia berani berpikir, berani bertanya, berani mengakui ketidaktahuan, lalu berusaha mencari kebenaran.
Mungkin kalimat paling sederhana untuk memulai semuanya adalah:
“Saya tidak tahu. Mari kita cari tahu.”
— Syadir Ali
