Ada masa dalam hidup ketika kita terlalu sibuk mengejar dunia,
hingga lupa menyapa diri sendiri.
Kita ingin menjadi lebih—lebih baik, lebih berhasil, lebih diakui.
Namun dalam perjalanan itu, tanpa sadar kita mulai menjauh
dari hal paling sederhana: menerima diri apa adanya.
Kita marah saat gagal, kecewa saat tidak sesuai harapan,
dan sering kali menyalahkan diri sendiri
lebih keras daripada orang lain.
Padahal, hidup tidak pernah meminta kita menjadi sempurna.
Ia hanya meminta kita untuk terus berjalan,
meski pelan, meski tertatih.
Berdamai dengan diri sendiri bukan berarti menyerah.
Bukan pula berhenti berusaha.
Melainkan memahami bahwa tidak semua hal harus dipaksakan,
dan tidak semua luka harus segera sembuh.
Ada luka yang perlu waktu.
Ada kecewa yang perlu diterima.
Dan ada diri yang perlu dipeluk,
bukan dihakimi.
Mungkin, selama ini kita terlalu keras pada diri sendiri.
Terlalu sering menuntut tanpa memberi ruang untuk bernapas.
Padahal, jika kita mau berhenti sejenak,
duduk dalam diam,
dan benar-benar mendengarkan isi hati—
kita akan sadar bahwa diri ini hanya ingin dipahami.
Dan di situlah semuanya bermula:
bukan dari dunia luar,
melainkan dari kedamaian yang kita bangun di dalam diri.
